Bumi bersinar, begitu juga bintang. Kalau mendung datang karena waktu, aku tahu satu hal tentang kepastian. Dirimu jauh dari kulit pada telapakku. Entah bagaimana gambar itu selalu menyentuh tubuh beraroma keringat yang kutunggu setiap air mata mengalir. Malam saat pagi telah membaca masa depan. Suatu sore dengan senja asing milikmu kemudian ada hujan. Ini akan menjadi surat amatir yang seharusnya kuserahkan padamu dua tahun lalu. Sebab puisi-puisi tentangmu selalu hancur kusobek saat hatiku terluka. Tapi waktu masih menambah durasimu. Teriakan yang kukenal seharusnya membuatmu getir. Hidup ini indah dengan warna hitamnya. Jam dinding sengaja aku lempar ke lantai. Ternyata bumi tidak selalu bersinar, begitu juga bintang. Lelah adalah diksi paling tepat untuk kutukan. Kata maaf menjadi slogan demo bersifat anarki. Api penebusan yang panas. Kata maaf tak pernah tersingkap verbal karena pembayaran melalui air mata disebut lebih tulus. Dendam pun menjadi kesucian para sufi. Hentikan aku sampai kata-kata menyusun dosa yang kalian tahu adalah luka. Mata akan selalu buta, ya kan?